Cukai Tembakau di Indonesia

Dalam industri tembakau Indonesia, sigaret secara garis besar dibagi menjadi sigaret buatan mesin (sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin – SKM dan SPM) dan sigaret kretek tangan (SKT) bagi kepentingan penarikan cukai.  

Cukai tembakau adalah sumber penting pendapatan Pemerintah. Sampoerna merupakan salah satu penyumbang cukai hasil tembakau terbesar di Indonesia. Pada tahun 2013, Sampoerna menyumbangkan cukai sejumlah Rp30,7 triliun. Kontribusi kami tercatat sebesar 29,6% dari total pendapatan domestik cukai produk tembakau negara sebesar Rp103,6 triliun pada tahun 2013 berdasarkan Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2015.

Industri kretek yang merupakan salah satu produk asli Indonesia memberikan lapangan kerja bagi sekitar enam juta orang, dan merupakan salah satu sektor penyumbang cukai dan pajak terbesar bagi Pemerintah RI. Sampoerna terus merekomendasikan agar pemerintah mempertimbangkan pentingnya perlindungan tenaga kerja dalam merumuskan kebijakan cukai di masa depan.

Kami terus mengomunikasikan dukungan kami terhadap penyederhanaan sistem cukai produk tembakau, sejalan dengan Roadmap Industri Hasil Tembakau yang tujuan utamanya adalah Pendapatan Negara, Ketenagakerjaan dan Kesehatan.

Sampoerna mempekerjakan puluhan ribu orang dalam industri sigaret kretek tangan (SKT) yang padat karya. Pada akhir tahun 2013, Sampoerna menyerap tenaga kerja sekitar 90.000 orang, termasuk lebih dari 56.500 orang pekerja di 38 Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang tersebar di 27 kabupaten di Pulau Jawa. Sekitar 90% dari tenaga kerja tersebut terlibat dalam produksi SKT.

 

Sampoerna merupakan salah satu penyumbang cukai hasil tembakau terbesar di Indonesia

Cookie Consent