Cukai Tembakau di Indonesia

Dalam industri tembakau Indonesia, rokok secara garis besar dibagi menjadi rokok buatan mesin (rokok kretek dan rokok putih – SKM dan SPM) dan sigaret kretek tangan (SKT) bagi kepentingan penarikan cukai.  

Cukai tembakau adalah sumber penting pendapatan Pemerintah, Sampoerna adalah salah satu penyumbang cukai hasil tembakau terbesar di Indonesia. Pada tahun 2012, Sampoerna menyumbangkan cukai sejumlah Rp27,7 triliun, yang berarti Sampoerna merupakan salah satu penyumbang cukai tembakau terbesar di Indonesia. Kontribusi kami tercatat sebesar 30,6% dari total pendapatan domestik cukai produk tembakau negara sebesar Rp90,5 triliun pada tahun 2012 berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea & Cukai dalam Sosialisasi Cukai 2013 pada tanggal 17 Januari 2013.

Industri kretek yang merupakan salah satu kekhasan Indonesia memberikan lapangan kerja bagi sekitar enam juta orang, dan merupakan salah satu sektor penyumbang cukai dan pajak terbesar bagi Pemerintah RI. Sampoerna terus merekomendasikan agar pemerintah mempertimbangkan pentingnya perlindungan tenaga kerja dalam merumuskan kebijakan cukai di masa depan.

Kami terus mengomunikasikan dukungan kami terhadap penyederhanaan sistem cukai produk tembakau, sejalan dengan Roadmap Industri Hasil Tembakau yang tujuan utamanya adalah Pendapatan Negara, Ketenagakerjaan dan Kesehatan.

Sampoerna mempekerjakan puluhan ribu orang dalam industri sigaret kretek tangan (SKT) yang padat karya. Pada akhir 2012, Sampoerna menyerap total tenaga kerja sekitar 89.500 orang, termasuk lebih dari 61.000 orang pekerja di 38 Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang tersebar di 27 kabupaten di Pulau Jawa. Sekitar 90,2% dari tenaga kerja tersebut (termasuk MPS) yang terlibat dalam produksi SKT.

Cookie Consent