Pertanian di Indonesia - Farming in Indonesia

Dari Benih hingga Pengeringan

Sampoerna tidak memiliki pertanian tembakau. Kami membeli tembakau dari perusahaan pemasok daun tembakau.

Bersama para pemasok, kami bekerja sama dengan petani, instansi pemerintah dan perguruan tinggi dalam berbagi dan mempromosikan praktik-praktik pertanian tembakau yang baik. Tujuan kami adalah untuk memastikan bahwa kami memiliki pasokan tembakau berkualitas yang cukup untuk produksi kami, sekaligus memastikan kondisi kerja yang aman bagi para petani dan buruh sehingga menjaga kesinambungan pertanian tembakau.

Praktik Pertanian yang Baik

Produksi tembakau berkelanjutan

Sampoerna berkomitmen dalam menjaga keberlanjutan produksi tembakau agar kualitasnya dapat memenuhi harapan perokok dewasa dan standar Sampoerna serta ketentuan yang berlaku. Bagi Sampoerna, produksi tembakau yang berkelanjutan adalah produksi berkualitas yang efisien dan kompetitif tanpa memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, serta pada saat yang bersamaan meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat dan orang-orang yang terlibat dalam produksi. Kami percaya bahwa keberlanjutan produksi tembakau dapat dihasilkan apabila petani secara konsisten menerapkan Good Agricultural Practices (Praktik Pertanian yang Baik/GAP).

GAP pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006 kepada pemasok tembakau Sampoerna untuk diteruskan kepada petaninya. Pada tahun 2011, prinsip dan standarnya diperbaharui dan ditingkatkan berdasarkan masukan dari petani dan pemasok daun tembakau agar memenuhi harapan dan sejalan dengan perkembangan teknologi.

GAP terdiri dari tiga pilar utama, yaitu CROP atau tanaman, PEOPLE atau orang/petani dan ENVIRONMENT atau lingkungan. Masing-masing pilar memiliki standar pengukuran yang digunakan sebagai panduan dalam melaksanakan praktik pertanian yang baik.

  • Pilar CROP (tanaman) mengkaji semua hal terkait dengan integritas dari varietas tanaman, pengelolaan unsur hara, pengelolaan persemaian serta lahan, antisipasi siklus hama dan penyakit, seputar tahapan panen, tahapan pengolahan dan persiapan penjualan, integritas produk dan skala ekonomis pertanian.
  • Pilar ENVIRONMENT (lingkungan) berkaitan dengan bagaimana menjaga kelangsungan air bersih, tanah, mengelola sampah atau limbah, energi dan material, serta keanekaragaman hayati.
  • Pilar PEOPLE (orang) meliputi aturan terkait pekerja anak, pendapatan dan jam kerja, perlakuan yang adil, kerja paksa, lingkungan kerja yang aman dan menunjang keselamatan, kebebasan berserikat, dan patuh serta taat pada hukum yang berlaku

Selain ketiga pilar tersebut, program GAP juga menjelaskan tentang aspek penting yang harus dilakukan pemasok tembakau sebelum musim tanam dimulai. Aspek kewajiban pemasok ini (Supplier Governance) mencakup:

  • Pemasok harus memiliki kontrak dengan petani Integrated Production System (IPS) yang merefleksikan implementasi GAP
  • Pemasok mengkomunikasikan dan memberikan pelatihan tentang GAP pada penyuluh lapangan
  • Pemasok mengkomunikasikan dan memberikan pelatihan tentang GAP pada petani
  • Pemasok memberikan definisi yang jelas tentang fungsi dan tanggung jawab pada implementasi GAP
  • Keefektifan pemasok dalam menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan GAP akan diukur di lapangan.
  • Secara sistematik, pemasok mengumpulkan informasi tentang proses penanaman tembakau, dan menyelenggarakan penilaian internal (self-assessment) berdasarkan data tersebut setiap tahunnya.
  • Pemasok menyelenggarakan inspeksi lapangan tanpa konfirmasi kepada petani.

Praktik Tenaga Kerja Pertanian

Tenaga kerja merupakan aspek penting dalam pertanian Indonesia yang padat karya. Belum adanya peraturan perundangan khusus maupun instansi formal yang mengawasi praktik ketenagakerjaan di bidang pertanian. Ini menjadi motivasi kami untuk menciptakan pedoman khusus yang dikenal dengan Pedoman Pekerja Pertanian (Agricultural Labor Practice/ALP). Melalui praktik ALP, kami ingin memastikan bahwa buruh tani di dalam produksi tembakau memiliki jaminan keamanan, kesejahteraan, dan perlindungan dari isu-isu ketenagakerjaan.  

Sampoerna bekerja sama dengan para pemasok serta petani dalam menjalankan program ALP. Kami telah menyelesaikan fase pertama ALP yang merupakan fase komunikasi dan edukasi terhadap petani tentang isu-isu ALP. Proses berikutnya akan menitikberatkan pada pengawasan dan asistensi tenaga pendamping lapangan (Field Technician) terhadap kepekaan petani dalam mengatasi isu-isu ALP.

Selain itu, studi pendahuluan terhadap mekanisme support line atau jalur komunikasi petani akan dilakukan agar ke depannya diharapkan petani dan atau pekerja tani dapat memiliki akses yang baik dan tepat terhadap pihak ketiga guna mengkomunikasikan isu-isu ketenagakerjaan yang mungkin muncul di lapangan. Dari sisi pemasok, adanya jalur komunikasi ini akan memberikan manfaat sebagai media untuk mendeteksi dan menanggulangi isu-isu ketenagakerjaan.

 

From Seeds to Curing

Sampoerna does not own a tobacco farm. We buy tobacco from tobacco leaf suppliers.

With our suppliers, we work with farmers, government agencies and universities in sharing and promoting good agricultural practices for tobacco. Our aim is to ensure that we have adequate supply of quality tobacco for our production and guarantee a safe working condition for farmers and laborers to maintain the sustainability of tobacco agriculture.

Good Agricultural Practices

Sustainable tobacco production

Sampoerna is committed to maintaining tobacco production sustainability in order to allow the quality to meet the expectations of adult smokers and Sampoerna's standards as well as the applicable requirements. For Sampoerna, sustainable tobacco production means efficient and competitive production of good quality without negative impact to the environment while uplifting the social and economic conditions of the local community and those involved in production. We believe that sustainable tobacco production can be achieved if farmers consistently implement Good Agricultural Practices (GAP).

GAP was first introduced in 2006 to Sampoerna's tobacco suppliers to be passed down to its farmers. In 2011, its principles and standards were renewed and improved based on the feedbacks from farmers and tobacco leaf suppliers in order to fulfill expectations and keep up with technological advances.

GAP consists of three main pillars of CROP, PEOPLE and ENVIRONMENT. Each pillar has measurable standards used to guide the implementation of good agricultural practices.

  • The CROP pillar reviews everything related to the integrity of crop variety, nutrient management, nursery and soil management, pest and disease cycle anticipation, harvesting stages, processing stage and sale preparation, product integrity and agricultural economic scale.
  • The ENVIRONMENT pillar relates to how to maintain clean water supply, soil, managing waste, energy and material and biodiversity.
  • The PEOPLE pillar covers rules relating to child labor, wages and work hours, fair treatment, forced labor, safe and secure working environment, freedom of association, as well as compliance with prevailing regulations.

Aside from the three pillars, the GAP program also describes the important aspects that tobacco suppliers must do before starting the growing season. This Supplier Governance covers the following:

  • The supplier must have contract with Integrated Production System (IPS) farmers who reflect GAP implementation
  • The supplier communicates with and provides training on GAP for field counselors
  • The supplier communicates with and provides training on GAP for farmers
  • The supplier provides clear definitions on the functions and responsibilities in GAP implementation
  • The effectiveness of the supplier in solving GAP-related issues will be measured in the field.
  • Systematically, the supplier collects information about tobacco growing processes and conducts self assessments based on the data each year.
  • The supplier organizes field inspections without confirming the farmers.

Agricultural Labor Practices

Workforce is an important aspect of the labor-intensive agriculture sector in Indonesia. There is lack of specific law and regulation as well as a dedicated agency that oversees agricultural labor practices. This motivated us to create specific guidelines known as the Agricultural Labor Practices (ALP). Through ALP, we want to ensure that farm workers in tobacco production have guaranteed safety, well-being and protection from labor issues. 

HMS cooperates with suppliers and farmers in organizing the ALP program. We have finished the first phase of ALP, consisting of phases of communication and education of farmers on ALP issues. The next process will emphasize monitoring and assistance of field technicians in farmers' sensitivity toward resolving ALP issues.

In addition, a preliminary study on support line mechanism or farmers' communication channel will be done in order to allow farmers or farm workers good and appropriate access to a third party in communicating labor issues that may arise out on the ground. For suppliers, the communication channel will serve as a medium to detect and resolve labor issues.

Sampoerna berkomitmen dalam menjaga keberlanjutan produksi tembakau

Sampoerna is committed to maintaining tobacco production sustainability

Set cookie preferences